(Kutim) – Ketergantungan Kutai Timur (Kutim) terhadap sektor tambang masih sangat tinggi. Berdasarkan data terbaru, sektor pertambangan menyumbang hingga 75,53 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kutim pada 2024. Sementara itu, kontribusi sektor pertanian baru berada di angka 8,80 persen.
Namun pemerintah daerah tak tinggal diam. Sektor pertanian kini dijadikan program unggulan, sekaligus pilar transisi ekonomi menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum, menegaskan bahwa komitmen ini merupakan arahan langsung Bupati Kutim.
“Kalau tambang ini kan non-renewable, tidak bisa diperbarui. Pak Bupati melihat bahwa tambang akan habis. Kita tidak ingin Kutim jadi kota mati seperti beberapa daerah lainnya. Makanya sektor pertanian harus kita push sama-sama,” ujarnya, Jum’at (14/11/2025).
Meski kontribusinya masih kecil, sektor pertanian menunjukkan peningkatan positif dari 7,60 persen pada tahun sebelumnya. Tren ini dinilai sebagai sinyal awal pergeseran struktur ekonomi Kutim menuju sektor yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Kutim memiliki potensi besar untuk mengembangkan komoditas unggulan, salah satunya nanas. Pemerintah bahkan menargetkan pengolahan nanas dilakukan dari hulu hingga hilir.
“Pak Bupati ingin nanas digarap dari hulu sampai hilir. Daunnya bisa dijadikan serat bernilai ekonomi tinggi. Serat nanas bisa dijual sampai Rp120 ribu per kilo,” jelas Dyah.
Selain nanas, padi juga menjadi fokus pengembangan. Dengan dukungan alat dan mesin pertanian modern, biaya produksi dapat ditekan hingga Rp10 juta per hektare. Jika produksi mencapai 4 ton per hektare, petani bisa meraih pendapatan sekitar Rp26 juta per tiga bulan.
Saat ini, Kutim memiliki 2.638 hektare sawah aktif. Pemerintah menargetkan penambahan 1.150 hektare sawah baru hingga 2026 untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.
Rencana jangka panjang pemerintah juga mencakup pemanfaatan lahan eks tambang untuk pertanian. Namun Dyah mengakui, ekspansi lahan pertanian tidak mudah karena berbenturan dengan HGU, wilayah adat, dan area tambang aktif.
“Kita harus hati-hati. Jangan sampai tujuan kita baik tapi salah langkah,” katanya.
Beberapa wilayah dengan jaringan irigasi kuat telah menjadi prioritas pengembangan, seperti Kaubun, Kongbeng, dan Long Mesangat—tiga kecamatan yang memiliki bendungan besar sebagai sumber air pertanian.
Tak hanya fokus pada produksi pangan, sektor pertanian Kutim juga mulai bergerak ke agrowisata. Dua wilayah Kaubun dan Teluk Pandantelah dijadikan pilot project.
“Kami ingin agrowisata juga menjadi sumber pendapatan petani sambil menunggu masa panen,” ujar Dyah. “Di Kaubun, konsep Bali yang diusung warga lokal menarik pengunjung. Sementara di Teluk Pandan, sudah ada pasar makanan tradisional dan spot foto,” pungkasnya. (adv/rm/be)





