(Kutim) – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Pariwisata (Dispar) terus berinovasi dalam memperkuat sektor ekonomi kreatif (Ekraf). Salah satunya lewat program Sinergi Data Ekraf (Sindekraf), yang kini menjadi langkah strategis untuk membangun basis data pelaku ekraf yang akurat, terintegrasi, dan inklusif.
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kutim, Akhmad Rifanie, mengatakan program ini hadir sebagai solusi atas minimnya data valid pelaku ekraf di daerah. Menurutnya, data yang belum lengkap kerap menjadi kendala dalam penyaluran bantuan dan pembinaan.
“Sampai sekarang data ekraf masih belum lengkap dan akurat. Banyak bantuan dan pembinaan yang belum bisa kami lakukan secara keseluruhan,” ujar Rifanie, Rabu (12/11/2025).
Melalui Sindekraf, Dispar Kutim ingin memperkuat sinergi dan validasi data agar setiap pelaku ekonomi kreatif bisa terfasilitasi dengan baik. Dengan basis data yang terpercaya, program ini akan menjadi landasan bagi penyusunan kebijakan dan perencanaan program pemberdayaan ke depan.
“Sebenarnya banyak pelaku ekraf di Kutai Timur, tapi masyarakat masih minim pemahaman soal sektor ini. Karena itu kami hadir untuk mendata sekaligus membina mereka,” tambahnya.
Rifanie menjelaskan, ada 17 subsektor ekonomi kreatif yang menjadi fokus pengembangan, meliputi bidang kriya, fesyen, musik, seni rupa, kuliner, film, animasi dan video, hingga aplikasi dan pengembangan permainan, sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2019.
Dalam pelaksanaannya, Dispar Kutim juga mengajak seluruh perangkat daerah untuk berperan aktif mendaftarkan pelaku ekraf melalui sistem Siekta (Sistem Ekonomi Kreatif dan Pariwisata).
“Sebelum kami gencarkan pendataan, pelaku ekraf yang terdata hanya kurang dari 10. Tapi setelah kami jalankan Sindekraf, kini sudah tercatat 72 pelaku ekraf,” ungkapnya.
Ia menegaskan, data yang kuat menjadi pondasi bagi pengembangan ekonomi kreatif yang tangguh dan berdaya saing. Dengan informasi yang akurat dan akuntabel, pemerintah daerah dapat merancang program yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
“Kami ingin pelaku ekraf di Kutim tidak hanya terdata, tapi juga terbina dan tumbuh menjadi bagian dari kekuatan ekonomi daerah,” pungkasnya. (adv/rm/be)






