SANGKULIRANG — Potensi perikanan di Kecamatan Sangkulirang, Kutai Timur, dinilai masih sangat besar untuk dikembangkan. Namun, keterbatasan infrastruktur pendukung seperti Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) menjadi salah satu kendala yang dihadapi masyarakat pesisir.
Camat Sangkulirang Cipto Buntoro mengatakan, aktivitas perikanan di wilayah tersebut memiliki sejarah panjang. Bahkan, pada era 1990-an, Sangkulirang pernah menjadi salah satu kawasan dengan aktivitas perikanan yang cukup ramai dan didukung banyak kapal nelayan.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat kembali dikembangkan apabila kebutuhan dasar nelayan, khususnya bahan bakar minyak (BBM), dapat dipenuhi dengan lebih mudah.
“Kesulitannya nelayan itu yang pertama tentang BBM, tidak memiliki SPBN yang bisa mendukung untuk kegiatan pengisian BBM, sulit dan mahal sementara BBM sangat vital untuk kegiatan operasi nelayan,” ujar Cipto.
Selain BBM, keberadaan fasilitas pendukung lainnya juga diperlukan untuk memperkuat rantai usaha perikanan. Cipto menyebut ketersediaan es batu menjadi salah satu kebutuhan penting bagi nelayan untuk menjaga hasil tangkapan.
Ia menilai, apabila pemerintah dapat menghadirkan SPBN sekaligus fasilitas produksi es batu, potensi perikanan Sangkulirang masih terbuka lebar. Apalagi, hasil tangkapan memiliki peluang pemasaran ke sejumlah daerah, termasuk Samarinda dan Bontang.
“Jadi seandainya memang pemerintah itu membangunkan SPBN dan produksi es batu itu luar biasa, Sangkulirang masih memungkinkan,” katanya.
Penguatan infrastruktur tersebut diharapkan dapat mendorong aktivitas nelayan sekaligus membuka kembali peluang ekonomi masyarakat pesisir Sangkulirang.(Adv/Kominfo)





