SANGATTA – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi meminta pelaku seni dan pengelola kebudayaan berani melakukan inovasi dalam mengembangkan kesenian tradisional. Menurutnya, inovasi diperlukan agar budaya lokal tetap menarik di tengah perkembangan zaman.
Mahyunadi menyampaikan hal itu saat menghadiri Bimbingan Teknis (Bimtek) Tata Kelola Kesenian Tradisional yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim.
Ia mengatakan kesenian tradisional harus tetap memiliki identitas daerah, namun pengemasannya dapat disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat.
“Kita kreasikan dengan tarian-tarian modern. Kita kreasikan tetap tidak menghilangkan kearifan lokalnya,” ujar Mahyunadi.
Ia menceritakan pengalamannya saat melakukan kunjungan ke Denmark ketika masih menjabat sebagai wakil ketua DPRD. Dalam kegiatan tersebut, sejumlah negara menampilkan kesenian daerah masing-masing dengan memadukan unsur tradisional dan kreasi baru.
Menurut Mahyunadi, pendekatan serupa dapat diterapkan dalam pengembangan kesenian di Kutim. Ia menilai pertunjukan yang hanya mempertahankan bentuk lama berpotensi kurang menarik bagi generasi dan pasar saat ini.
Namun, inovasi tersebut juga tidak boleh menghilangkan karakter asli budaya daerah. Ia mengakui terdapat tantangan ketika kesenian tradisional diberi sentuhan baru karena sebagian pihak dapat menilai perubahan tersebut mengurangi orisinalitas.
“Kalau kita pertahankan originalitas tidak begitu menarik bagi orang,” katanya.
Karena itu, Mahyunadi meminta pelaku seni mencari titik tengah antara pelestarian dan kreativitas. Kesenian lokal, termasuk tari-tarian Dayak, menurutnya dapat dikemas lebih menarik melalui perpaduan gerakan, busana dan konsep pertunjukan tanpa meninggalkan kearifan lokal.
Ia berharap Bimtek tersebut menjadi ruang bagi para pelaku seni untuk menemukan pola pengembangan budaya yang relevan dengan perkembangan zaman sekaligus mampu memperkenalkan identitas Kutim kepada masyarakat luas.(Adv/Kominfo)





